Basic Environmental Training 4

Tambak Udang Ditentang di Bantul

BANTUL KOMPAS — Maraknya pembangunan tambak udang di lahan pasir di pesisir pantai Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ditentang sebagian warga setempat. Hal itu dinilai berdampak negatif bagi lahan pertanian di sekitarnya. Bahkan, kehadiran tambak udang juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan karena pesisir Bantul selama ini menjadi salah satu kawasan penyangga pangan DIY.

”Uap air payau dari tambak udang membuat tanaman padi di sekitarnya tidak tumbuh sempurna sehingga hasil panen tidak maksimal,” kata Suradi, petani di Bantul, akhir pekan lalu. Kian maraknya pembangunan tambak udang dikhawatirkan mematikan lahan produktif di sekitarnya.

Guna menghambat laju alih fungsi lahan pasir tersebut, sejumlah warga Desa Srigading, Kecamatan Sanden, memasang spanduk berisi tulisan yang intinya menolak pembangunan tambak udang di enam lokasi di jalan utama menuju Pantai Samas.

Menurut seorang pemilik lahan, Sukmono, selain membawa dampak negatif bagi tanaman budidaya, pembangunan tambak udang juga akan mengancam keberlangsungan mata pencarian petani setempat. ”Keterbatasan kemampuan dana akan membuat warga setempat hanya menjadi penonton, sedangkan keuntungan hanya akan diminati investor bermodal besar,” ujar Sukmono.

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bantul Suroto berpendapat, selama ini lahan pertanian di Bantul berfungsi sebagai salah satu penyangga pangan utama DIY. Lahan yang diincar investor tambak udang di Desa Srigading seluas 20 hektar itu merupakan lahan produktif. Saat ini lahan sawah tersebut memproduksi padi rata-rata 7 ton per hektar. ”Jadi, berapa banyak pasokan beras yang kelak akan hilang setelah menjadi tambak udang?” ujarnya.

Suroto tidak mempermasalahkan pembangunan tambak udang jika dilakukan di lahan kritis yang tidak produktif. Selain itu, pembuangan limbahnya harus dipastikan tidak mencemari air tanah bagi pertanian di sekitarnya.

Menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Yogyakarta Halik Sandera, masyarakat selama ini sebenarnya telah berhasil mengubah lahan kritis di pesisir Bantul menjadi kawasan pertanian lahan pasir yang produktif. Upaya ini seharusnya diberi dukungan optimal.

”Kami masih menunggu pemerintah menegakkan peraturan penghentian pembangunan tambak udang,” ujar Halik. Hal tersebut karena kawasan pesisir Bantul sebenarnya ditujukan untuk lahan pertanian dan gumuk pasirnya telah ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi. (DRA)

 

Sumber: Kompas, Senin 07 April 2014, halaman 21

Xbanner1

Jl. Nyi Pembayun 14 A Karang Samalo Kotagede Yogyakarta 55172 T/F: +62 274 378631